4.10.10

Layang-layang


Aku bersiul. Bersiul seperti kebiasaan di kampungku. Turun-temurun diajarkan siulan begitu untuk memanggil angin. Kami harap angin yang baik hati dan bersemangat brkenan datang.

Aku pandangi lekat-lekat. ''terbanglah engkau. Terbang dengan baik. Siulan ini demi keindahanmu.''

Rambutku mengibas wajah. Dan layang-layang ku lepaskan. ''aku pegangi talinya. Terbanglah dengan indah!''

Senyumku memaksa untuk disunggingkan. Teriak masa silam bisingkan lamunan. ''aku berhak mengaku 'telah dewasa' kini'', desahku dalam benak.

Senja ini sangat pengertian. Anginnya manjakan khayalku. Kutatap langitnya seolah cerita silam tergambar di sana. ''pasti Bunga Ashar di halaman sedang mekar. Aku akan segera pulang!''

''jangan terlalu keras menariknya. Jangan juga terlalu lemah.'' Aku ingat, ketika aku belajar terbangkan layang-layang. Dengan senang hati aku diajari. ''ada masanya mengulur talinya. kemudian tarik kembali. Demikian berulang-ulang!.''

Polos aku bertanya, ''untuk apa begitu?''

''mengimbangi angin. Di atas sana angin lebih kencang. Dan angin tak pasti arah. Jika tak begitu, layang-layangmu akan jatuh.'' Aku diam, mencoba memahami. ''lakukan dengan lembut agar terbangnya indah.''

Tawa kecil dari para perempuan memotong lamunanku. Aku pekakan pendengaran. Aku perhatikan agar memahami. ''tawa itu dari jauh. Bising tentunya. Tapi kudengar begitu halus. Seperti layang-layang kah mereka?''

Sejak kecil, Ayahku mengajari arti penghormatan kepada Ibu dan perempuan. Hingga kini aku perlu belajar tentang itu. Aku diceritai kelembutan dan kekerasan perempuan. Aku juga dapati cerita tentang cara-cara semestinya memperlakukan perempuan. Tapi aku tak faham sangat makna cerita-cerita itu. Tetapi juga...''aku akan terus belajar memahami.''

Kuhempaskan nafas dengan asap yang baru saja kuhisap. Seteguk kopi juga kunikmati. Dan gemulai perempuan menghampiri. kemudian duduk ia seperti murid yang baik. Menatapku dengan pancaran semacam harapan ingin di mengerti. Dimengerti sebagai wanita yang dihormati para Rosul dan Nabi-nabi.

Aku menatpnya memberikan kepastian. Aku dekatkan lamunanku dan kubisikan kepadanya, Kugenggam engkau seperti layang-layang yang sempat kuterbangkan. Demikian karena artimu bagiku.

Matahari izin undur. Ia sapaikan kepadaku dengan wakilnya, cahaya merah bara kehitaman.

24 juli 2009 lembang

3.10.10

Rapuh Kami

Aku datang. Aku membawa gelisah nestapa. Meskipun aku sedikit saja mengetahui, tetapi, Kau, Tuhan, aku pun menyaksikan raut murung teraniaya bencana. Di Teve, di koran, di radio, ragam rupa bencana ditenarkan. Dan terngianglah, pun dalam benakku.


Aku ingin mendengar jawabanMu menyoal itu! Sungguhkah itu karena kejengkelanMu? Sungguhkah itu dendamMu? Karena cecerean dosa di atas hamparan jagatMu? Apakah dosa itu mencuri atau melacur atau merampas atau membunuh atau memfitnah atau menggunjing atau hasud atau takabur atau berjudi atau menyama-nyamakan atau.... Atau, Tuhan, dosa itu adalah abei? Abei kepada sebahagian ayatMu, sebab terlena?


Aku beranikan diri bertanya demikian, Tuhan, karena banyak juga hambamu yang lantang berkata bahwa: itu adzab agar yang terkena bencana segera bertobat dan bersumpah tidak mengulangi kelakuan dosa lagi. Yang bikin aku penasaran, mengapa mereka yang nampaknya masih rajin mengingatMu, meskipun mulutnya yang mengingat. Mengapa bukan mereka yang menginjak-injakMu dengan nalar, hati, dan mulutnya saja dulu r6yuobnjoYUHBUilgbhjwguhlahui xhjhblhqbg bhdsjakghbiwleghbldnsjo;%$^*^*(UV(OYHU *oyuhi


Tuhan, mengertilah, bukan bermaksud mengabeikan geliat alam disekitaran, tetapi cerita surgaMu sungguh bagus dan membuai impian. Cerita nerakaMu yang mengerikan pun membawa sirna sebahagian kesadaran bahwa apa yang dipijak dan segenap yang hidup di atasnya, juga ayatMu.


Aku ingin tau jawabanMu! Kelirukah jika aksara dalam mushaf itu kubacai dan dihafalkan, kemudian kufikirkan, kemudian ku gumamkan dengan lantang, kemudian ku indahkan dengan nyanyian, kemudian ku ukir dan ku sampaikan cerita surga dan nerakaMu? Atau keliru karena hanya itu saja, Tuhan? Atau, Tuhan...?


(mengingat bencana-bencana yang diingatkan si gempa 7.6sr Padang, dan lainnya.)

Parigimulya 10 Oktober 2009